Entri Populer

Selasa, 23 September 2014

PENANGKAP HIU DI LOMBOK TIMUR



Penangkapan hiu merupakan salah satu aktivitas yang sulit dihilangkan dari kebiasaan nelayan yang berada di Tanjungluar, Lombok Timur. Penangkapan hiu sudah mulai dilakukan sejak dahulu di Tanjungluar, bahkan penangkapan hiu merupakan salah satu penangkapan utama di daerah tersebut. Mereka  belajar menangkap hiu secara tradisional yang diajarkan oleh nenek moyang mereka. Hingga sekarangpun mereka masih menggunakan peralatan tradisional yang sederhana untuk menangkap hiu yaitu dengan menggunakan alat tangkap pancing ulur yang sederhana dan kapal yang hanya berukuran kurang dari 5 GT. Menurut nelayan disana hiu banyak terdapat di daerah tersebut, bahkan jaring untuk menangkap ikan selain hiu juga mendapatkan hiu dalam jumlah banyak. Mereka mengira bahwa daerahnya merupakan salah satu tempat berkembangbiaknya hiu. Oleh karena itu penangkapan hiulah yang menjadi tangkapan utama di daerah tersebut.

Gambar. Hiu martil (Sphyrna lewini) yang 
banyak tertangkap di Lombok (Foto oleh Ebie)
Sekarang penangkapan hiu menjadi sebuah permasalahan di dunia. Banyak LSM-LSM yang mulai melakukan aksi untuk mencegah penangkapan hiu di seluruh dunia. Dari berbagai macam jenis hiu ada beberapa hiu yang  sudah mengalami eksploitasi berlebihan sehingga keberadaannya di alam dinyatakan hampir punah. Menurut IOTC (2013) jenis hiu martil atau Sphyrna lewini dan Allopias pelagicus atau hiu tikus merupakan salah satu hiu yang hampir punah keberadaannya di dunia. Namun nelayan tidak peduli dengan keberadaan hiu-hiu yang hampir punah tersebut. Bagi mereka hiu yang sudah jarang ditemukan merupakan hiu yang mahal harga jualnya ke industri-industri pengumpul sirip hiu. Hiu masih mereka tangkap selama hiu yang ada di perairannya masih banyak dan berlimpah, beda halnya jika lumba-lumba yang tertangkap biasanya jika lumba-lumba tertangkap oleh jaring mereka akan dikembalikan lagi ke alam dan ada juga beberapa nelayan nakal yang akan diambil kemudian mereka melakukan transaksi oleh kapal asing di tengah laut.

Biasanya industri-industri pengumpul hiu hanya mengambil sirip hiu yang akan dimanfaatkan untuk obat dan kosmetik. Harga sirip hiu bisa mencapai 100.000/kg, hal itu jika kualitas hiunya juga bagus dan siripnya tidak rusak akibat tombak. Kebanyakan industri-industri pengumpul hiu mengirim sirip-sirip itu ke luar dan dalam negeri. Sedangkan dagingnya dipanggang atau diasap yang fungsinya untuk menghilangkan bau pesing dari badan hiu tersebut dan biasanya dijual di daerah setempat. Harganya sangat murah sekitar Rp. 20.000 – Rp 25.000 / tusuk. Tidak hanya hiu saja yang dijual ke industri-industri, pari juga mereka ambil insang dan siripnya.

Biasanya penjualan hiu dilakukan dengan melakukan pelelangan. Pelelangan diselenggarakan oleh pegawai Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang terdapat didalam pelabuhan di Tanjung Luar.

Gambar. Hiu yang akan dilelang di pelabuhan Tanjungluar, Lombok Timur (Foto oleh Ebie).


Pada bulan September 2013 ada 23 jenis hiu dan pari yang banyak ditemukan di Tanjungluar. Jenis-jenisnya adalah Allopias pelagicus, Allopias superciliosus, Carcharhinus albimarginatus, C. amblyrhnchos, C. falciformis, C. malanopterus, C. obscurus, C. plumbeus, C. sorrah, Galeocerdo cuvier, Prionace galuca, Triaenodon obesus, Chimaera cf sp E., Heptranchias perlo, Isurus oxyrhynchus, Manta birostris, Mobula japanica, Orectolobus ornatus, Rhynchobatos australiae, Sephyrna lewini, Squalus sp 1, Hemitriakis sp, dan Mustelus cf manazo. 
Problematika penangkapan hiu mulai diresahkan oleh para nelayan yang kesehariannya menangkap hiu. Mereka lebih mendapatkan keuntungan lebih banyak dari menangkap hiu dibanding menangkap ikan lainnya. Hiu yang membuat hidup mereka bisa sejahtera. Bahkan pemerintah setempat juga menyediakan tempat pengolahan ikan hiu sehingga hiu yang mereka dapatkan banyak dikonsumsi oleh penduduk lokal. Namun jika dilihat dari sisi ekologi dan keseimbangan ekosistem, hewan top predator ini sudah mulai mengkhawatirkan keberadaannya, dimana hewan ini sudah mulai menurun stoknya di alam. Apakah akan menguntungkan jika hiu mulai berkurang stoknya di alam?

Ada beberapa pemikiran yang mungkin menyatakan akan berbahaya jika hiu-hiu ini terus diburu oleh manusia. Padahal jika hewan predator ini menghilang maka ikan-ikan mangsanya akan terus bertambah dan manusiapun akan banyak memperoleh ikan lain  untuk di konsumsi. Tapi menurut ekologi, ekosistem perairan laut akan mengalami ketidakseimbangan jika top predator yang ada di laut sudah menghilang. Keberadaan hiu di laut sangat penting untuk menentukan keanekaragaman suatu wilayah karena distribusinya sangat luas sehingga dapat menentukan wilayah mana tempat mereka berkembangbiak (Spawning ground) dan tempat mencari makan (Feeding ground).

Penulis Febry Endah 

1 komentar:

  1. wah, bagus sekali cerita ini, saya kira hanya ada di lamaklera... good : )

    BalasHapus