Entri Populer

Minggu, 21 September 2014

Wajah pertanian dan Refleksi diri

Katanya zamrud khatulistiwa
Nyatanya kilau air mata
Katanya serpihan surga
Nyatanya oh .. (Iwan Fals – Katanya)

Semakin hari isu-isu pertanian terus digulirkan dan digaung-gaungkan,Tak aneh dan tak heran  pembahasan masalah pertanian yang sering terdengar adalah mengenai nasib para buruh tani, tengkulak yang sewenang-wenang, kebjiakan pemerintah yang tidak pro rakyat, alih fungsi lahan, dll. Sepertinya banyak lagi jika permasalahan-permasalahan tersebut diuraikan lebih detail dan rinci. Saya kira itu tidak perlu dijabarkan, karena saya yakin konsep beserta solusinya telah dibuat oleh para ahli dan stakeholder di bidang pertanian. Sekarang pertanyaannya, mengapa langkah-langkah nyata penataan pertanian Indonesia belum terasa?

    Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas sepertinya perlu ada sedikit brainstorming mengenai wajah pertanian tempo doeloe. Jika saya mengingat  masa kecil, saya jadi teringat bagaimana kita mengagung-agungkan betapa subur dan kayanya tanah air Indonesia. Masih ingat dengan kata-kata ini? Zamrud khatulistiwa-gemah ripah loh jinawi-toto tentrem kerto raharjo-Negara agraris. Ditelaah lebih jauh, ternyata memang benar nenek moyang kita telah berkecimpung di dalam dunia pertanian dari masa berburu, meramu, dan bercocok tanam. Sebenarnya masih banyak pembahasan mengenai kejayaan pertanian pada masa lalu.

        Setelah sedikit mengorek wajah pertanian tempo doeloe, maka hendaklah kita bangkit dari rasa pesimis dan kecewaan terhadap wajah pertanian sekarang dan nanti. Karena secara prestasi sampai saat ini, Indonesia masih mempunyai prestasi produksi di tingkat dunia dengan komoditas kelapa sawit, kopi, cokelat, dan  karet (sumber:Kompas 2013).

      Saya kira rakyat Indonesia boleh bangga akan hal itu terlepas seberapa besarnya pengaruh dan peran-peran perusahaan asing dalam menguasai komoditas tersebut. Namun perlu juga penataan dan pengambil alihan aset menjadi milik Indonesia (Nasionalisasi). Pembahasan ini memang seru, seperti yang dikatakan pemateri saat diskusi pertanian yang saya ikuti, M.Riza Febriano (Alumnus Agronomi IPB) “Sebenarnya pertanian kita diurus oleh petani ataukah buruh tani?”

         Pembicaraan itu tak habis sampai disitu, ternyata jika dirunut kembali dan merefleksi, ternyata dari zaman dahulu hingga zaman sekarang  bangsa Indonesia masih terjajah (re:buruh tani). Namun faktor pembedanya yakni saat ini penjajahnya tak terlihat secara fisik. Musuh kita bukan lagi Belanda, berkulit terang dan berpakaian mentereng yang sempat menjajah bangsa Indonesia selama 3,5 abad melainkan musuh yang tak tampak seperti bangsa lain, bahkan bisa jadi anak bangsa Indonesia sendiri yang tidak berpihak kepada kepentingan bangsa Indonesia.
       
        Hal tersebut adalah sedikit dari banyaknya carut marut wajah pertanian bangsa kita. Saya kira pembicaraan ini telah banyak dibicarakan dari obrolan warung kopi  oleh masyarakat hingga para elit pemerintah. Yang dimana saya yakin seluruh rakyat Indonesia menginginkan perubahan wajah pertanian, tinggal bagaimana pemerintah dapat mensinergiskan program-programnya dan masyarakat pun membantu mensukseskannya (Hubungan timbal balik pemerintah – masyarakat).
          
        Terlepas dari pentingnya hubungan timbal balik dari pemerintah dan masyarakat, yang paling penting marilah kita sama-sama berefleksi kembali kepada diri kita sendiri. Apakah yang bisa dilakukan oleh masing-masing individu dalam hal perwujudan perbaikan pertanian? Karena langkah perubahan sebenarnya kunci paling utama dan nyata yang ada pada diri kita sendiri. Mungkin yang telah saya lakukan masih dalam hal kecil dan belum berdampak nyata, oleh karena itu saya mengajak diri saya pribadi dan para rekan-rekan semua untuk minimal melakukan sekecil apapun langkah yang bisa kita lakukan.


“Bercerminlah, maka itu proses refleksi yang paling jujur” Herdafi, 2014

Penulis Herdafi Rizki Zamzami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar