Katanya zamrud khatulistiwa
Nyatanya kilau air mata
Katanya serpihan surga
Nyatanya oh .. (Iwan Fals – Katanya)
Semakin
hari isu-isu pertanian terus digulirkan dan digaung-gaungkan,Tak aneh dan tak
heran pembahasan masalah pertanian yang
sering terdengar adalah mengenai nasib para buruh tani, tengkulak yang
sewenang-wenang, kebjiakan pemerintah yang tidak pro rakyat, alih fungsi lahan,
dll. Sepertinya banyak lagi jika permasalahan-permasalahan tersebut diuraikan
lebih detail dan rinci. Saya kira itu tidak perlu dijabarkan, karena saya yakin
konsep beserta solusinya telah dibuat oleh para ahli dan stakeholder di bidang
pertanian. Sekarang pertanyaannya, mengapa langkah-langkah nyata penataan pertanian
Indonesia belum terasa?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan
diatas sepertinya perlu ada sedikit brainstorming mengenai wajah pertanian
tempo doeloe. Jika saya mengingat masa
kecil, saya jadi teringat bagaimana kita mengagung-agungkan betapa subur dan kayanya
tanah air Indonesia. Masih ingat dengan kata-kata ini? Zamrud khatulistiwa-gemah ripah loh jinawi-toto tentrem kerto
raharjo-Negara agraris. Ditelaah lebih jauh, ternyata memang benar nenek
moyang kita telah berkecimpung di dalam dunia pertanian dari masa berburu,
meramu, dan bercocok tanam. Sebenarnya masih banyak pembahasan mengenai
kejayaan pertanian pada masa lalu.
Setelah sedikit mengorek wajah pertanian tempo doeloe, maka
hendaklah kita bangkit dari rasa pesimis dan kecewaan terhadap wajah pertanian
sekarang dan nanti. Karena secara prestasi sampai saat ini, Indonesia masih
mempunyai prestasi produksi di tingkat dunia dengan komoditas kelapa sawit,
kopi, cokelat, dan karet (sumber:Kompas
2013).
Saya kira rakyat Indonesia boleh
bangga akan hal itu terlepas seberapa besarnya pengaruh dan peran-peran perusahaan asing dalam menguasai
komoditas tersebut. Namun perlu juga penataan dan pengambil alihan aset menjadi
milik Indonesia (Nasionalisasi). Pembahasan ini memang seru, seperti yang
dikatakan pemateri saat diskusi pertanian yang saya ikuti, M.Riza Febriano
(Alumnus Agronomi IPB) “Sebenarnya pertanian kita diurus oleh petani ataukah
buruh tani?”
Pembicaraan itu tak habis sampai disitu, ternyata jika dirunut
kembali dan merefleksi, ternyata dari zaman dahulu hingga zaman sekarang bangsa Indonesia masih terjajah (re:buruh
tani). Namun faktor pembedanya yakni saat ini penjajahnya tak terlihat secara
fisik. Musuh kita bukan lagi Belanda, berkulit terang dan berpakaian mentereng yang sempat menjajah bangsa
Indonesia selama 3,5 abad melainkan musuh yang tak tampak seperti bangsa lain,
bahkan bisa jadi anak bangsa Indonesia sendiri yang tidak berpihak kepada
kepentingan bangsa Indonesia.
Hal tersebut adalah sedikit dari banyaknya carut marut wajah pertanian bangsa kita. Saya
kira pembicaraan ini telah banyak dibicarakan dari obrolan warung kopi oleh masyarakat hingga para elit pemerintah. Yang dimana saya yakin seluruh rakyat
Indonesia menginginkan perubahan wajah pertanian, tinggal bagaimana pemerintah
dapat mensinergiskan program-programnya dan masyarakat pun membantu
mensukseskannya (Hubungan timbal balik pemerintah – masyarakat).
Terlepas dari pentingnya hubungan
timbal balik dari pemerintah dan masyarakat, yang paling penting marilah kita
sama-sama berefleksi kembali kepada diri kita sendiri. Apakah yang bisa dilakukan
oleh masing-masing individu dalam hal perwujudan perbaikan pertanian? Karena
langkah perubahan sebenarnya kunci paling utama dan nyata yang ada pada diri kita
sendiri. Mungkin yang telah saya lakukan masih dalam hal kecil dan belum berdampak
nyata, oleh karena itu saya mengajak diri saya pribadi dan para rekan-rekan
semua untuk minimal melakukan sekecil apapun langkah yang bisa kita lakukan.
“Bercerminlah, maka itu proses refleksi
yang paling jujur” Herdafi, 2014
Penulis Herdafi Rizki Zamzami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar