Penangkapan hiu merupakan salah
satu aktivitas yang sulit dihilangkan dari kebiasaan nelayan yang berada di
Tanjungluar, Lombok Timur. Penangkapan hiu sudah mulai dilakukan sejak dahulu
di Tanjungluar, bahkan penangkapan hiu merupakan salah satu penangkapan utama
di daerah tersebut. Mereka belajar
menangkap hiu secara tradisional yang diajarkan oleh nenek moyang mereka.
Hingga sekarangpun mereka masih menggunakan peralatan tradisional yang
sederhana untuk menangkap hiu yaitu dengan menggunakan alat tangkap pancing
ulur yang sederhana dan kapal yang hanya berukuran kurang dari 5 GT. Menurut
nelayan disana hiu banyak terdapat di daerah tersebut, bahkan jaring untuk
menangkap ikan selain hiu juga mendapatkan hiu dalam jumlah banyak. Mereka
mengira bahwa daerahnya merupakan salah satu tempat berkembangbiaknya hiu. Oleh
karena itu penangkapan hiulah yang menjadi tangkapan utama di daerah tersebut.
![]() |
Gambar. Hiu martil (Sphyrna
lewini) yang
banyak tertangkap di Lombok (Foto oleh Ebie)
|
Sekarang penangkapan hiu menjadi sebuah permasalahan di
dunia. Banyak LSM-LSM yang mulai melakukan aksi untuk mencegah penangkapan hiu
di seluruh dunia. Dari berbagai macam jenis hiu ada beberapa hiu yang sudah mengalami eksploitasi berlebihan
sehingga keberadaannya di alam dinyatakan hampir punah. Menurut IOTC (2013)
jenis hiu martil atau Sphyrna lewini dan
Allopias pelagicus atau hiu tikus merupakan
salah satu hiu yang hampir punah keberadaannya di dunia. Namun nelayan tidak
peduli dengan keberadaan hiu-hiu yang hampir punah tersebut. Bagi mereka hiu
yang sudah jarang ditemukan merupakan hiu yang mahal harga jualnya ke
industri-industri pengumpul sirip hiu. Hiu masih mereka tangkap selama hiu yang
ada di perairannya masih banyak dan berlimpah, beda halnya jika lumba-lumba yang
tertangkap biasanya jika lumba-lumba tertangkap oleh jaring mereka akan
dikembalikan lagi ke alam dan ada juga beberapa nelayan nakal yang akan diambil
kemudian mereka melakukan transaksi oleh kapal asing di tengah laut.
Biasanya industri-industri
pengumpul hiu hanya mengambil sirip hiu yang akan dimanfaatkan untuk obat dan
kosmetik. Harga sirip hiu bisa mencapai 100.000/kg, hal itu jika kualitas
hiunya juga bagus dan siripnya tidak rusak akibat tombak. Kebanyakan
industri-industri pengumpul hiu mengirim sirip-sirip itu ke luar dan dalam
negeri. Sedangkan dagingnya dipanggang atau diasap yang fungsinya untuk
menghilangkan bau pesing dari badan hiu tersebut dan biasanya dijual di daerah
setempat. Harganya sangat murah sekitar Rp. 20.000 – Rp 25.000 / tusuk. Tidak
hanya hiu saja yang dijual ke industri-industri, pari juga mereka ambil insang
dan siripnya.
Biasanya penjualan hiu dilakukan
dengan melakukan pelelangan. Pelelangan diselenggarakan oleh pegawai Tempat
Pelelangan Ikan (TPI) yang terdapat didalam pelabuhan di Tanjung Luar.
![]() |
Gambar. Hiu yang akan dilelang di
pelabuhan Tanjungluar, Lombok Timur (Foto oleh Ebie).
|
Pada bulan September 2013 ada 23
jenis hiu dan pari yang banyak ditemukan di Tanjungluar. Jenis-jenisnya adalah Allopias pelagicus, Allopias superciliosus,
Carcharhinus albimarginatus, C. amblyrhnchos, C. falciformis, C. malanopterus,
C. obscurus, C. plumbeus, C. sorrah, Galeocerdo cuvier, Prionace galuca,
Triaenodon obesus, Chimaera cf sp E., Heptranchias perlo, Isurus oxyrhynchus,
Manta birostris, Mobula japanica, Orectolobus ornatus, Rhynchobatos australiae,
Sephyrna lewini, Squalus sp 1, Hemitriakis sp, dan Mustelus cf manazo.
Problematika
penangkapan hiu mulai diresahkan oleh para nelayan yang kesehariannya menangkap
hiu. Mereka lebih mendapatkan keuntungan lebih banyak dari menangkap hiu
dibanding menangkap ikan lainnya. Hiu yang membuat hidup mereka bisa sejahtera.
Bahkan pemerintah setempat juga menyediakan tempat pengolahan ikan hiu sehingga
hiu yang mereka dapatkan banyak dikonsumsi oleh penduduk lokal. Namun jika
dilihat dari sisi ekologi dan keseimbangan ekosistem, hewan top predator ini
sudah mulai mengkhawatirkan keberadaannya, dimana hewan ini sudah mulai menurun
stoknya di alam. Apakah akan menguntungkan jika hiu mulai berkurang stoknya di
alam?
Ada beberapa pemikiran yang mungkin menyatakan akan berbahaya jika
hiu-hiu ini terus diburu oleh manusia. Padahal jika hewan predator ini
menghilang maka ikan-ikan mangsanya akan terus bertambah dan manusiapun akan
banyak memperoleh ikan lain untuk di
konsumsi. Tapi menurut ekologi, ekosistem perairan laut akan mengalami
ketidakseimbangan jika top predator yang ada di laut sudah menghilang.
Keberadaan hiu di laut sangat penting untuk menentukan keanekaragaman suatu
wilayah karena distribusinya sangat luas sehingga dapat menentukan wilayah mana
tempat mereka berkembangbiak (Spawning
ground) dan tempat mencari makan (Feeding
ground).
Penulis Febry Endah



wah, bagus sekali cerita ini, saya kira hanya ada di lamaklera... good : )
BalasHapus