Catatan Mba Rita (Itok) pada Kelas Menulis, Sabtu 13 September 2013
![]() |
| Peserta Kelas Menulis perdana BWYC 'Bogor Writers Youth Camp' |
Gak terlalu sering kegiatan seperti ini dilakukan. Sekumpulan anak muda berkumpul untuk ngobrol satu topik tertentu. Dafid Suki dan Nike Husen yg jadi seksi sibuk. Pertemuan ini tidak berbayar. Peserta ngongkos masing-masing. Yang jadi host kegiatan adalah Samdhana yg concern dengan isu peningkatan kapasitas diri anak muda agar lingkungannya lebih baik. Ini salah-satu bentuk dukungannya.
Bukan sembarang ngobrol, karena ini menyangkut jati diri bangsa yang katanya negara agraris. Yang bikin unik kegiatan ini karena setelah ngobrol, dengerin narasumber (narsum), dengerin pertanyaan sesama peserta, saling menjelaskan, lanjut praktik langsung. Yes, menulis! Narsum-nya juga unik. Adalah praktisi langsung. Bukan yang biasa diundang di gedung dan training-training di hotel. Tapi biasa ngobrol sama petani. Kebetulan juga latar belakang kedua narsum adalah anak sekolahan. Jadi bisa paham bingitt bagaimana sulitnya persoalan pengembangan pertanian yang sedang kita hadapi saat ini.
Peserta yang hadir datang kebanyakan mahasiswa. Beberapa sudah menyelesaikan tugas kemahasiswaannya atau kembali mendaftarkan diri menjadi mahasiswa. Mungkin belajar formal 4 tahun dirasa tidak cukup, jadi perlu ditambah lagi.
Emang sih sekolah tuh asyik, melenakan, ketemu orang baru dari berbagai provinsi, tangan tidak langsung kotor belepotan tanah karena memang kebanyakan ngurusin buku dan huruf. Kita menyebutnya itu kerja teori. Prof Sajogjo (alm), Bapak Sosiologi Indonesia pernah menulis artikel, Teori yang Berpraktik dan Praktik yang Berteori. Saya memahaminya bahwa kita harus seimbang antara teori dan praktik, yin-yang, siang-malam.
Del Anno nama keren facebook Kak Riza, narsum pertama yang mengantar peserta memahami sejarah pertanian dan persoalan kekinian. Sebuah ekosistem buatan yang ditujukan untuk pengadaan kebutuhan pangan manusia, itulah batasan pertanian. Saking pentingnya nih isu pertanian, maka negara turut hadir dalam berbagai intervensi melalui subsidi benih, pupuk, dan pemasaran. Negara-negara maju bahkan menggelontorkan ribuan dolar dananya agar produk pertanian bisa diserap di berbagai dunia berkembang. Indonesia saja yang mengklaim negara agraris terkenal pengimpor berbagai produk pertanian.
Mbak Endah Febri yang pernah ikutan melaut bareng nelayan merasa prihatin karena harga solar begitu tinggi. Setidaknya nelayan butuh 1,5 juta untuk melaut. Angka yg bukan kecil dibandingkan dengan rendahnya harga ikan yang bakalan didapat. Mbak Aslimah saking gemasnya dengan impor daging sapi Australia berujar. "Akankah presiden terpilih memberi perhatian atas isu daging impor dan memberi perhatian kepada peternak lokal?"
Mbak Endah Murni mencermati tutupan lahan sawah di Ubud yg kian waktu kian berkurang. Proses panen padi menjadi salah-satu atraksi wisata. Mbak Ipha merasa kalau sektor pertanian semakin membingungkan. Tidak yakin mau mendalami masuk ke pertanian. Mbak Asya membeli beras merah organik produksi PT Martani yg dibawa oleh Rita. Saya dulu mengonsumsi beras ini tapi sekarang tidak lagi.
Mas Lukman mendalami biofarmaka dan tanaman obat yg berlimpah di Nusantara. Usaha biofarmaka harus ditingkatkan. Mas Reza Ali Akbar ingin menjadi makelar, mafia yg baik hati dan agak sopan begitu istilahnya. Tentunya ini pembelajaran dalam setelah panen kangkungnya ditertawakan para koleganya. sangat prihatin melihat kondisi pertanian di sekitaran Darmaga yg hancur karena wereng dan keong mas.
Mas Dafi menanam jabon dan sengon di lahan kurang 1 ha. Dana diambil dari hibah dan juga dana sendiri. Melakukan aksi bertani sebagai sambilan saja, tidak bisa sepenuhnya menjadi pekerjaan utama. Tidak cukup pendapatan yg akan diterima.
Ini adalah tugas menulis yang diminta oleh Anggit, narsum materi menulis. Mohon masukannya apakah ini narasi, deskripsi atau oposisi? Eh eksposisi. Buat saya menulis adalah persoalan menyampaikan cerita yang ada di kepala. Teori menulis belakangan. Mungkin seorang editor berbayar yang akan serius melakukan finishing touch agar artikel itu laku jual atau pas dengan kelompok pembaca tertentu.
Semoga negara kembali hadir diantara petani kita. Atau semoga publik semakin cerdas menolong diri sendiri dan mengonsumsi produk pertanian lokal. Musti itu! Atau kita akan selalu menjadi buruh di negeri kita sendiri. Tidak mau!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar